Kenangan
Sudah lama sekali aku ingin menulis cerita ini sebelum semua memudar dikikis waktu yang berlalu tanpa bisa dihentikan bersama dengan dirimu, linda karena setiap saat ditemanin dengan berbagai canda dan cerita apa saja.
Naik gunung semeru berubah setelah melakukan simaksi dan mampir di warung pecel enak di ranupani hujan turun pelan tanpa tau kapan akan berhenti dan pada akhirnya kami mengambil keputusaan untuk menunda melakukan perjalanan dari ranupani ke ranukumbolo esok pagi, otomatis perencanan awal gw ikut berubah.
Itulah salah satu alasan gw ketinggalaan kereta karena melanjutkan perjalan selanjutnya, yang bikin gw sadar ketika salah satu teman bilang seharusnya lu berangkat ke banyuwangi. Apa boleh buat jam lima sore masih di tumpang bersama mereka. menginap di malang sampai dapat tiket kereta api baru yang ke banyuwangi.
Setelah dua hari pindah dari satu tempat ke tempat lain akhirnya gw dapat tiket dan siangnya bersiap untuk ke stasiun malang menunggu kereta ke banyuwangi. Awalnya mau mampir jember dan keliling sehari bersama kolega buyar karena lupa jadwal. jam empat sore berangkat dari malang kota lama.
Dalam perjalanan selalu bertukar kabar dengan linda di jakarta, dia bercerita tentang keasikkan lebaran bareng keluarga dan gw bercerita tentang bagaimana indahnya ranukumbolo sampai capeknya mendaki tanjakan cinta, doi meminta mengingat namanya sepanjang tanjakan cinta tapi dilarang menoleh ke belakang sebab mitos begitu.
Kereta berjalan pelan meninggalkan bibir pinggiran tempat kaki melangkah ke gerbong yang membawa sebuah kisah baru untuk menjajaki kota baru dan asing yang bernama banyuwangi. Sebuah kota asing dan sendiri cuma bermodal tekad dan kata hati-hati dari linda setiap pindah kota, jam dua belas malam gw sampai di perhentian terakhir.
Berjalan keluar gerbong untuk melihat tempat menginap di dalam are stasiun paginya jalan kaki ke dermaga ketapang tapi ketika berjalan ke arah mushola gw melihat tiga orang remaja yang menggendong carriel otomatis otak kecil bekerja dan dari mulut mengeluarkan kata mau lanjut kemana bang??
Terjadilah percakapan sederhan tanpa jeda
A : Mau lanjut ke rinjani bang, bang mau sendiri
B : Iya bang, mau nyebrang kapan?
A : malam ini bang selesai sholat, bang mau gabung sama kami ??
B : boleh bang kalau diijinin gabung.
Setelah percapakan selesai kami lanjut ke mushola sholat dan makan malam, kelar makan perlahan berjalan meninggalkan stasiun menuju dermaga yang keliatan ketika meninggalkan gerbang masuk stasiun, Jarak antara stasiun dengan dermaga sekitar sepeluh menit berjalan kaki.
Dermaga langsung beli tiket untuk menyebrang cukup bayar tiga ribu lima ratus sudah bisa sampai ke gilimanuk dengan jarak tempuh lebih kurang empat puluh lima menit. Naik kapal dengan perasaan senang karena tanpa menunggu besok pagi untuk menyebrang alasan lainnya cahaya di sebrang lautan keliatan jelas dan kabar baik gw sampaiin ke linda agar dia tidak perlu takut.
Selama perjalan ngobrol ngasal mereka berangkat dari depok ke malang karena baru selesai ujian akhir nasional dan tujuan selanjutnya ke nusa tenggara barat untuk mendaki gunung rinjani, dalam hati lumayan menggiurkan tujuan mereka kadang ingin ikut sama mereka dan cancel penerbangan bali — jakarta.
Asik bertukar cerita tanpa terasa kapal menepi di pelabuhan gilimanuk berarti semua penumpang diperbolehkan turun dan melanjutkan perjalanan atau mau balik ke ketapang juga bisa. Menjauh dari dermaga kami mulai mencari pintu keluar dermaga dengan menunjukkan identitas ke penjaga dermaga.
Lirik kiri kanan mencari angkutan yang mencari angkutan kira-kira jam satu dua puluh pagi untuk mencari angkutan ke denpasar, tanpa menunggu lama ada salah seorang pria mendekat dan bilang angkutan denpasar hanya satu hari ini karena bertepatan dengan pemilu, setelah menawar harga kami menaikkin angkutan.
Tanpa jeda lama angkutan berjalan meninggalkan gilimanuk dan saya mengabari risman kalau gw dalam perjalan ke denpasar begitu pun linda, Lelah bercampur senang karena dalam perjalanan menuju denpasar dan suasana mendukung untuk tidur karena angin malam yang membuat mata lebih nyaman dipejamkan dibandingakan dibuka, tertidur dengan memeluk daypack yang berisi kamera dan segala yang berharga.
Nyaring suara kondektur menerikkan berhenti disini atau lanjut yang membangunkan tidur panjang gw dan dari kejauhan samar terdengar suara adzan dari pengeras suara, merdu berirama untuk memanggil orang melakukan ibadah subuh tapi bagi sebagian orang hanya menjadi pengingat untuk pagi yang baru.
Perjalanan empat jam yang panjang tanpa terasa karna setengahnya dilewati dengan tidur karena beberapa hari ini sesuatu yang langka. Pagi sampai di perhentian terkahir terminal ubung mereka lanjut dengan angkutan baru menuju terminal padang bay yang membawa ke lombok gw berjalan perlahan dengan carriel menuju pintu keluar terminal.
Namun, setiap pertemuan melahirkaan kenangan sepaket dengan perpisahan. terima kasih untuk pertemuan singkat ini semoga dilain waktu kita berpas-pasan di tempat yang berbeda dengan cerita yang berbeda. Punggung kami sekarang bertolak belakang meninggalkan satu sama lain. Di kedai kopi sebrang gw mengirimkan pesan yang sama ke risman, linda dan orang tua, kalau gw udah di bali.
Pagi, di terminal Ubung Bali, 2018